PAGU DANA DESA KE DESA TAHUN 2020 - 2030
Keterangan: Grafik data Dana Desa Ke Desa dari tahun 2020–2030.
SALUR DANA DESA EARMARK dan NONEARMARK TA 2025
| BLT Desa (maks 15%) |
Ketahanan Pangan (min 20%) |
Stunting | Perubahan Iklim | Potensi & keunggulan desa |
Pemanfaatan TI | PKTD | Dana Desa tidak ditentukan penggunaannya (Prioritas Lainnya/NON EARMARK) |
|---|---|---|---|---|---|---|---|
| 0 | 0 | 0 | 0 | 0 | 0 | 0 | 0 |
REALISASI DANA DESA 2025
REALISASI DANA DESA TAHUN 2025
B L T
KETAHANAN PANGAN
STUNTING
PERUBAHAN IKLIM
POTENSI&UNGGULAN DESA
PEMANFAATAN TI
PKTD
NONEARMARK
Pencarian
LIVE
PAGU DANA DESA PER DESA TAHUN 2026
Selasa, 20 Januari 2026
Kamis, 15 Januari 2026
DESA DUDA TIMUR BUKTIKAN DESA BISA DIGITAL
Prestasi gemilang kembali ditorehkan Desa Duda Timur di kancah nasional. Desa yang berada di bawah kepemimpinan Perbekel I Gede Pawana ini sukses meraih Juara I Nasional Desa Digital, setelah mengungguli lebih dari 5.000 desa dari seluruh penjuru Indonesia dalam ajang kompetisi desa berbasis transformasi digital.
Penghargaan bergengsi tersebut diterima langsung oleh I Gede Pawana yang hadir mewakili masyarakat Desa Duda Timur dalam acara penganugerahan. Ia menegaskan bahwa capaian ini merupakan buah dari kerja keras dan komitmen panjang seluruh elemen desa yang telah dimulai sejak tahun 2017.
“Transformasi digital ini bukan pekerjaan instan. Kami membangunnya secara bertahap sejak 2017. Proses penilaian juga sangat panjang, hampir enam bulan, mulai dari verifikasi administrasi hingga penilaian langsung praktik di lapangan,” ungkap Pawana.
Dalam proses lomba, Desa Duda Timur berhasil melaju hingga tahap nasional setelah melewati seleksi ketat yang dilakukan oleh tim lintas kementerian dan lembaga. Tim penilai melibatkan Kementerian Komunikasi dan Informatika, Kementerian Desa, serta unsur independen yang menilai aspek inovasi, keberlanjutan program, dan dampak nyata bagi masyarakat desa.
Salah satu inovasi unggulan yang menjadi perhatian juri adalah aplikasi layanan masyarakat berbasis digital, termasuk fitur pencarian pendonor darah berdasarkan golongan darah secara real time. Inovasi tersebut dinilai sangat solutif dan berdampak langsung pada kebutuhan darurat warga.
Selain itu, Desa Duda Timur juga mencuri perhatian karena menjadi salah satu desa peserta yang telah memiliki sistem M-Banking desa, memungkinkan transaksi keuangan dilakukan secara digital dan terintegrasi dengan sistem perbankan nasional.
“Digitalisasi bagi kami bukan sekadar mengikuti tren, tetapi benar-benar menghadirkan kemudahan dan kecepatan layanan bagi masyarakat,” tegas Pawana.
Keberhasilan ini, lanjutnya, tidak lepas dari peran strategis Pendamping Desa yang selama ini aktif mendampingi proses perencanaan, penguatan kapasitas aparatur, hingga memastikan program digital berjalan sesuai kebutuhan masyarakat. Pendamping Desa dinilai menjadi jembatan penting antara kebijakan pemerintah dan implementasi nyata di tingkat desa.
“Pendamping Desa memiliki peran sangat penting dalam mengawal transformasi ini, mulai dari perencanaan hingga evaluasi. Sinergi inilah yang membuat program desa digital bisa berkelanjutan,” tambahnya.
Pawana juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang terlibat, mulai dari masyarakat desa, BPD, BPM, perangkat desa, hingga tim IT desa yang menjadi motor penggerak sistem digital. Ucapan terima kasih turut disampaikan kepada Camat, Bupati, dan Gubernur yang selama ini memberikan arahan, pembinaan, dan dukungan terhadap pengembangan konsep smart village di Desa Duda Timur.
Tak lupa, ia memberikan penghargaan kepada PT Saebo Technology yang telah mendukung pengembangan dan pemeliharaan aplikasi desa digital selama hampir sembilan tahun terakhir.
Ke depan, Pawana berharap ajang penilaian desa seperti ini terus diselenggarakan sebagai motivasi bagi desa-desa lain di Indonesia untuk terus berinovasi dan berbenah.
“Jika kota indah karena gemerlap lampunya, maka Indonesia akan bersinar karena desa-desa yang maju, tertata, dan berdaya. Desa yang didampingi dan dibina dengan baik akan menjadi kekuatan besar bagi kemajuan bangsa,” pungkasnya.
Selasa, 13 Januari 2026
Lokakarya PKD dan Penyusunan RPB Desa Dorong Ketangguhan Labasari dan Nawakerti
Dalam rangka meningkatkan
kesiapsiagaan desa terhadap ancaman bencana dan dampak perubahan iklim, Desa
Labasari dan Desa Nawakerti, Kecamatan Abang, Kabupaten Karangasem, mengikuti Lokakarya Penguatan Penilaian Ketangguhan
Desa (PKD) dan Penyusunan Rencana Penanggulangan Bencana (RPB) Desa yang
adaptif terhadap Perubahan Iklim.
Kegiatan yang berlangsung selama tiga
hari, 13–15 Januari 2026,
bertempat di Hotel Seamount Karangasem,
ini merupakan bagian dari Program Bali
Mandala 2026 yang dilaksanakan oleh Yayasan IDEP Selaras Alam dengan dukungan SIAP SIAGA.
Lokakarya ini diikuti oleh 80 peserta yang terdiri dari
perwakilan Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Desa dan Kabupaten, relawan
desa, BPBD Kabupaten Karangasem, perangkat daerah terkait, serta Pendamping Desa dari Program Pembangunan dan
Pemberdayaan Masyarakat Desa (P3MD) Kementerian Desa, Pembangunan Daerah
Tertinggal, dan Transmigrasi Republik Indonesia.
Kehadiran Pendamping Desa P3MD
berperan penting dalam memastikan hasil penilaian ketangguhan desa dan dokumen
RPB Desa dapat selaras serta terintegrasi dengan dokumen perencanaan
pembangunan desa, seperti RPJM Desa dan
RKP Desa, sehingga dapat diimplementasikan secara berkelanjutan.
Pada hari pertama, peserta melakukan
penguatan Penilaian Ketangguhan Desa melalui pengisian instrumen PKD BNPB
berbasis pentahelix secara partisipatif. Selanjutnya, pada hari kedua dan
ketiga, peserta menyusun Rencana Penanggulangan Bencana Desa yang terintegrasi
dengan strategi adaptasi perubahan iklim sesuai dengan kondisi dan potensi
lokal desa.
Pendekatan yang digunakan dalam
kegiatan ini menekankan partisipasi aktif masyarakat serta pemanfaatan konsep permaculture dalam pengelolaan
lingkungan dan sumber daya alam secara berkelanjutan.
Melalui lokakarya ini, Desa Labasari
dan Desa Nawakerti diharapkan memiliki dokumen RPB Desa yang menjadi acuan
dalam perencanaan pembangunan desa serta memperkuat sinergi antara pemerintah
desa, masyarakat, dan Pendamping Desa dalam mewujudkan desa yang tangguh, aman,
dan berkelanjutan dalam menghadapi risiko bencana dan perubahan iklim.
Kamis, 08 Januari 2026
MERAWAT DESA DENGAN HATI
Hari Desa
Nasional menjadi momentum penting untuk melakukan refleksi atas perjalanan
pembangunan desa, khususnya peran strategis Pendamping Desa dalam mengawal
proses pembangunan dan pemberdayaan masyarakat. Di Kabupaten Karangasem, Bali,
Pendamping Desa hadir sebagai mitra pemerintah desa dalam mewujudkan tata
kelola desa yang partisipatif, transparan, dan berorientasi pada kemandirian
desa, dengan tetap berlandaskan pada nilai-nilai kearifan lokal.
Tantangan lain yang dihadapi adalah masih rendahnya
Pendapatan Asli Desa (PAD) serta kondisi ekonomi masyarakat yang belum
sepenuhnya kuat. Keterbatasan ini mendorong perlunya upaya bersama untuk
menggali dan mengembangkan potensi desa secara berkelanjutan, termasuk
penguatan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) dan ekonomi lokal berbasis sumber daya
desa. Upaya tersebut sejalan dengan falsafah Tri Hita Karana, yang
mengajarkan pentingnya keseimbangan dan keharmonisan antara manusia, alam, dan
nilai-nilai spiritual dalam setiap proses pembangunan.
Peningkatan kapasitas sumber daya manusia juga menjadi
agenda penting dalam pendampingan desa. Perangkat desa, lembaga desa, serta
kelompok-kelompok masyarakat perlu terus diperkuat agar mampu merencanakan,
melaksanakan, dan mengawasi pembangunan desa secara mandiri dan berkelanjutan.
Nilai Tat
Twam Asi menjadi landasan moral dalam proses ini, bahwa membangun
desa bukanlah kerja individu, melainkan kerja bersama yang saling menguatkan
dan saling peduli.
Dalam praktik pendampingan, semangat kebersamaan Menyama
Braya menjadi kekuatan utama. Pendamping Desa, pemerintah desa, dan
masyarakat berjalan bersama, saling mendukung, dan saling belajar dalam
menghadapi berbagai keterbatasan. Dari proses inilah tumbuh kesadaran bahwa
desa yang kuat bukan hanya diukur dari besarnya anggaran, tetapi dari soliditas
warganya dan kemampuannya mengelola potensi secara bijaksana.
Marilah kita
jadikan desa sebagai ruang tumbuh bersama. Mari rawat semangat gotong royong, kuatkan
kolaborasi, dan bangun desa dengan hati yang tulus serta pikiran yang terbuka.
Karena sejatinya, desa yang mandiri lahir dari masyarakat yang mau belajar, mau
bekerja sama, dan tidak lelah berbenah.
Dengan langkah yang seirama dan niat yang satu, desa-desa di Kabupaten Karangasem diharapkan mampu terus melangkah menuju desa yang mandiri, berdaya saing, dan tetap berakar pada nilai budaya luhur Bali.
15 Januari 2026
— Pendamping Desa


